Bubur Manado Bikin Sayuran Jadi Bintang Utama, Begini Ciri Khas Tinutuan yang Sulit Ditiru Kota Lain
Kalau biasanya bubur identik dengan nasi, suwiran ayam, kecap, atau kuah gurih, Tinutuan dari Manado, Sulawesi Utara, justru mengambil jalur yang beda. Di sini, sayuran bukan cuma pajangan atau topping, tapi benar-benar jadi pemeran utama dalam semangkuk bubur. Tinutuan dikenal sebagai bubur khas Manado yang mencampurkan beras dengan berbagai bahan seperti labu kuning, jagung, kangkung, bayam, kemangi, singkong, dan daun gedi. Dalam bahasa Manado, tinutuan sering dimaknai sebagai sesuatu yang “campur aduk”, dan namanya memang cocok banget dengan tampilannya yang penuh warna serta isi.
1. Sayurannya bukan sekadar pelengkap.
Yang bikin Tinutuan beda adalah banyaknya sayuran yang dimasak bareng bubur. Labu kuning memberi rasa manis dan warna kuning-oranye, sementara kangkung, bayam, kemangi, jagung, dan bahan lain bikin teksturnya makin rame. Jadi, sekali suap, rasanya nggak monoton.
2. Ada daun gedi yang jadi “senjata rahasia”.
Nah, ini salah satu bagian yang susah ditiru kalau bahan lokalnya nggak tersedia. Daun gedi merupakan sayuran yang banyak digunakan di Sulawesi Utara. Saat dimasak, daun ini mengeluarkan lendir alami yang membantu membuat tekstur Tinutuan menjadi lebih kental.
3. Pelengkapnya bikin karakter Tinutuan makin Manado.
Semangkuk Tinutuan biasanya nggak berhenti di buburnya saja. Ada sambal roa, ikan asin, cakalang fufu, perkedel jagung, sampai perkedel nike yang bisa menemani. Jadi konsepnya simpel: buburnya lembut, sayurnya segar, lalu sambalnya kasih tendangan pedas.
4. Bisa punya “versi” yang beda.
Tinutuan juga bisa dikombinasikan dengan mi dan dikenal sebagai midal. Ada pula versi yang dicampur dengan brenebon atau sup kacang merah. Ini menunjukkan bahwa Tinutuan bukan makanan yang kaku, tetapi punya ruang untuk berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat setempat.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah dan urban, Tinutuan sebenarnya menarik karena mencerminkan konsep pangan lokal yang efisien sekaligus beragam. Dalam satu mangkuk terdapat sumber karbohidrat dari beras, jagung, singkong atau labu, ditambah berbagai sayuran yang menyumbang serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif dari tumbuhan. Namun, tentu saja nilai gizinya tetap bergantung pada komposisi dan lauk pendamping yang digunakan. Dari sudut pandang perkotaan, konsep seperti ini juga terasa relevan: satu makanan bisa menggabungkan banyak bahan lokal tanpa harus dibuat terlalu rumit. Menariknya lagi, Tinutuan sudah lama menjadi bagian dari identitas kuliner Manado dan kawasan Wakeke bahkan pernah dikembangkan sebagai lokasi wisata makanan khas Tinutuan.
Pada akhirnya, kekuatan Tinutuan bukan cuma soal rasa. Cara Manado menjadikan sayuran sebagai bintang utama membuat bubur ini punya identitas yang kuat. Banyak daerah bisa membuat bubur, tetapi karakter bahan, daun gedi, sayuran yang melimpah, serta pasangan sambal dan ikan membuat Tinutuan punya “rasa Manado” yang nggak gampang disalin begitu saja.